Renungan tentang sebuah kebahagiaan

Setiap orang sangat berbeda keadaannya. Ada yang sangat kaya, kaya, biasa, miskin, sangat miskin. Ada yang cantik, tampan, jenius, lucu, kreatif, menjemukan, pemarah, jelek, bodoh. Ada yang sehat, gemuk, kurus, rapuh, berpenyakit terminal.

Pada lapisan paling bawah dalam skala Maslow, setiap kenaikan kualitas material, akan terjadi kenaikan kebahagiaan yang setara. Pengemis akan jauh lebih berbahagia bila bisa mempunyai tempat tinggal permanen. Tapi setelah mencukupi kebutuhan utama, makan, berpakaian, tinggal, maka setiap kenaikan kekayaan tidak akan dibarengi dengan kenaikan kebahagiaan yang setara.

Saya pikir setiap orang punya “koefisien kebahagiaan” yang relatif “sama”. Seorang sopir taxi mendapat tip sebesar Rp. 100.000,-, akan merasa “sama” bahagianya, dengan seorang direktur mendapat bonus Rp. 10.000.000,-.

Pada dasarnya alam semesta cukup adil dalam hal kebahagiaan ini. Hal yang membuat kita “sama” bahagianya dengan orang super kaya, dan super miskin. Kenikmatan seorang sopir ojek adalah ketika dia bisa makan malam dengan nikmat bersama keluarga di Mc Donald, sementara seorang manager harus berlibur sekeluarga ke Bali untuk mendapatkan “rasa kebahagiaan” yang sama.

Bahkan orang yang mendapat kenikmatan besar, misalkan mendapat hadiah rumah mewah dari undian, akan bahagia sekali, hanya untuk beberapa saat saja. Ada “hedonistic adaptation”, adaptasi diri terhadap keadaan baru, dan membuat kebahagiaan kita turun kembali pada level standard koefisien kita setelah beberapa saat.

Pemahaman ini setidaknya diharapkan membuat kita lebih dapat mensyukuri hidup dan melihat kehidupan ini dengan kaca mata yang lebih jernih.

sumber: dari seorang kawan

Related Articles



0 Responses

suarakan hati nuranimu disini sebebas mungkin..